Ong Budi
Friday, June 22, 2012
Injil Dalam Kitab Amsal
Cukup lama saya mengenal kitab Amsal, tetapi selama itu saya belum berhasil menemukan kisah penebusan atau keselamatan melalui pengorbanan Anak Domba Allah. Selama ini pandangan saya mengenai Amsal adalah kitab yang membahas mengenai cara hidup seperti pergaulan, bisnis, pekerjaan, keluarga dsb. Tetapi setelah mempelajari lebih lanjut, memang ada kisah penebusan yang tersembunyi dalam kitab Amsal.
Pertama-tama, apa pengertian dari penebusan? Penebusan berarti menukar barang yang berharga milik orang lain dengan sesuatu yang lebih bernilai dari nilai barang tersebut. Seperti di pegadaian kita menebus barang yang telah digadaikan dengan sejumlah uang yang lebih besar dari nilai sewaktu digadaikan karena ditambahkan bunganya.
Nah setelah tahu mengenai penebusan, kenapa manusia harus ditebus? Karena manusia menjual hidupnya dengan tidak mentaati perintah Allah atau Bapa-nya. Kisah-nya seperti di Amsal 1: pemuda-pemuda berandalan membujuk seorang anak muda untuk mengikuti jalan hidup mereka. Ayahnya telah menasehati, “Anakku, janganlah engkau mengikuti ajakan mereka. Jauhilah orang-orang semacam itu karena kejahatan adalah kehidupan mereka, dan membunuh adalah keahlian mereka.” Karena terdorong oleh janji-janji yang disodorkan oleh pemuda-pemuda berandalan itu, maka anak itu mengikuti gerombolan ini. Dan terhilang dari orang tuanya….
Sebelum kita melanjutkan kisah tersebut, berarti apa yang ditawarkan oleh penebusan? Atau dengan kata lain apa yang dimaksud dengan surga? Surga dalam definisi ini adalah kembalinya si anak hilang ke rumah Ayahnya. Terjalinnya kembali hubungan antara Allah sebagai Bapa dan kita manusia sebagai anak-anak-Nya. Surga menurut saya tidak sekedar tempat yang indah dan agung, tetapi tempat di mana kita rindu untuk pulang, ke rumah tempat kita dilahirkan, kampung halaman kita. Amsal 8 menggambarkannya seperti ini: “Aku selalu berada di samping-Nya seperti seorang anak yang dikasihi-Nya. Aku selalu menjadi sukacita bagi-Nya, bergembira dan bermain-main di hadirat-Nya.”
Kisah ini dilanjutkan saat kelaparan melanda negeri dan tidak ada lagi yang bisa di makan, semua teman berandalannya meninggalkan dia, maka anak muda ini bekerja di peternakan babi. Bencana kelaparan sangat parah, bahkan untuk mengganjal perutnya dengan ampas makanan babi pun dilarang oleh majikannya. Dalam kelaparan, putus asa dan tanpa harapan dia ingat akan ayahnya….
Di sini dilakukan penebusan, sang Ayah mengutus Anak-Nya untuk mengorbankan diri-Nya untuk menebus anak muda ini. Karena Amsal berkata, “Bilur-bilur yang berdarah membersihkan kejahatan, dan pukulan membersihkan lubuk hati.” Cambukan Romawi yang menyebabkan bilur-bilur (daging yang terkelupas dari tubuh) sampai akhirnya penyaliban Yesus di kayu salib adalah jalan untuk membersihkan kejahatan dari lubuk hati. Gambaran ini begitu gamblang dituliskan dalam kitab Amsal.
Melalui jalan ini maka sang pemuda dapat kembali kepada Ayah-nya. Pulang ke rumah Bapa. Jika saudara belum menemukan jalan ini, saya undang untuk menerima Yesus Kristus sebagai Penebus agar kita bersama dapat berjumpa kembali dengan Bapa, Ayah kita di surga. Silahkan panjatkan doa pendek di bawah ini:
”Yesus, saya mengakui bahwa Kau adalah Tuhan dan Juruselamat saya. Saya percaya di dalam hati saya bahwa Allah telah membangkitkan-Mu dari antara orang mati. Dengan iman dalam firman-Mu, saya menerima keselamatan sekarang. Terima kasih karena telah menyelamatkan saya!”
Sampai bertemu, bertemu
Bertemu di rumah Bapa-ku
Semoga bertemu, bertemu
Sampai kita bertemu di Surga.
Salam Hikmat, Bijaksana Dalam Bertindak,
Ong Budi Setiawan
Friday, February 17, 2012
Menerima Yesus sebagai Juru Selamat Anda
Mengambil keputusan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat Anda adalah keputusan terpenting yang akan pernah Anda buat!
Doakan dengan suara keras, ”Yesus, saya mengakui bahwa Kau adalah Tuhan dan Juruselamat saya. Saya percaya di dalam hati saya bahwa Allah telah membangkitkan-Mu dari antara orang mati. Dengan iman dalam firman-Mu, saya menerima keselamatan sekarang. Terima kasih karena telah menyelamatkan saya!”
Saat Anda menyerahkan hidup Anda kepada Yesus Kristus, kebenaran firman-Nya langsung digenapi dalam roh Anda. Sekarang setelah Anda lahir baru, ada diri Anda yang baru!
Doakan dengan suara keras, ”Yesus, saya mengakui bahwa Kau adalah Tuhan dan Juruselamat saya. Saya percaya di dalam hati saya bahwa Allah telah membangkitkan-Mu dari antara orang mati. Dengan iman dalam firman-Mu, saya menerima keselamatan sekarang. Terima kasih karena telah menyelamatkan saya!”
Saat Anda menyerahkan hidup Anda kepada Yesus Kristus, kebenaran firman-Nya langsung digenapi dalam roh Anda. Sekarang setelah Anda lahir baru, ada diri Anda yang baru!
Labels:
doa,
Juruselamat,
keputusan,
Keselamatan,
Penebusan,
Yesus
Why Do You Save Me?
Po, sang Dragon Warrior, hanyut terbawa arus sungai. Terluka parah, sekarat, tidak berdaya… Soothsayer mengangkatnya dari sungai dan membawanya untuk diobati. Setelah Po siuman, ada satu pertanyaan yang diajukan ke Southsayer. “Why do you save me?” (Mengapa engkau menyelamatkan saya?). “To fulfill your destiny.” (Untuk menggenapi takdirmu)…. Kungfu Panda 2.
Menelusuri jalan via dolorosa sampai tiba di bukit Golgota. Di hadapan salib kayu itu saya bertanya kepada Yesus, ”Why do you save me…?”. “To fulfill your destiny.” Jawab-Nya. Teringat percakapan dengan-Nya sebelum penyaliban. “Dosamu amat besar dan engkau harus menerima hukuman. ‘Upah dosa adalah maut.’ Tetapi besok Aku akan disesah dan dimahkotai dengan mahkota duri untukmu – Aku minta kepadamu untuk membantu mereka menancapkan paku-paku ke dalam tangan dan kaki-Ku dan memakukan Aku pada sebuah kayu salib. Aku akan berseru kesakitan, dan Aku akan ikut merasakan kesedihan ibu-Ku, yang hatinya akan hancur karena keharuan. Dan apabila Aku telah mati, kamu akan tahu bahwa dosamu telah diampuni untuk selamanya, bahwa Aku adalah Penggantimu, Korbanmu. Maukah engkau menerima penderitaan-Ku untuk pelanggaran-pelanggaranmu? Ataukah lebih suka menanggung hukumanmu sendiri?” (Richard Wurmbrand)
Apakah saya bisa menerimanya dengan begitu mudah? Menerima keselamatan dan kemudian melanjutkan hidup saya seperti tidak pernah terjadi apa-apa…? Ini tidak adil menurutku. Ada agenda yang telah dirancang-Nya untuk nyawa yang telah diberikan-Nya. Dan sebagai gantinya, saya harus menyelesaikan agenda-Nya di bumi ini.
Yesus, agendaku adalah melakukan kehendak-Mu. Agendaku adalah menyelesaikan pekerjaan-Mu. Inilah destiny-ku, ini takdirku akan ku selesaikan sebagai ganti nyawa-Mu untukku.
My Lord…. My King… My Jesus… Amen
Menelusuri jalan via dolorosa sampai tiba di bukit Golgota. Di hadapan salib kayu itu saya bertanya kepada Yesus, ”Why do you save me…?”. “To fulfill your destiny.” Jawab-Nya. Teringat percakapan dengan-Nya sebelum penyaliban. “Dosamu amat besar dan engkau harus menerima hukuman. ‘Upah dosa adalah maut.’ Tetapi besok Aku akan disesah dan dimahkotai dengan mahkota duri untukmu – Aku minta kepadamu untuk membantu mereka menancapkan paku-paku ke dalam tangan dan kaki-Ku dan memakukan Aku pada sebuah kayu salib. Aku akan berseru kesakitan, dan Aku akan ikut merasakan kesedihan ibu-Ku, yang hatinya akan hancur karena keharuan. Dan apabila Aku telah mati, kamu akan tahu bahwa dosamu telah diampuni untuk selamanya, bahwa Aku adalah Penggantimu, Korbanmu. Maukah engkau menerima penderitaan-Ku untuk pelanggaran-pelanggaranmu? Ataukah lebih suka menanggung hukumanmu sendiri?” (Richard Wurmbrand)
Apakah saya bisa menerimanya dengan begitu mudah? Menerima keselamatan dan kemudian melanjutkan hidup saya seperti tidak pernah terjadi apa-apa…? Ini tidak adil menurutku. Ada agenda yang telah dirancang-Nya untuk nyawa yang telah diberikan-Nya. Dan sebagai gantinya, saya harus menyelesaikan agenda-Nya di bumi ini.
Yesus, agendaku adalah melakukan kehendak-Mu. Agendaku adalah menyelesaikan pekerjaan-Mu. Inilah destiny-ku, ini takdirku akan ku selesaikan sebagai ganti nyawa-Mu untukku.
My Lord…. My King… My Jesus… Amen
Tuesday, January 26, 2010
Tiada Gunung Terlampau Tinggi

Di atas ketinggian bukit di Cisarua, menunggu giliran untuk terjun flying fox, cukup tinggi untuk menguji keberanian, bagaimana mengatasinya? Saya teringat satu lagu yang dinyanyikan oleh Dra. Ruthie.
Tiada gunung yang terlampau tinggi
Yang tidak mungkin dapat didaki
Jurang yang terlalu curam
Untuk dijembatani
Samudra raya untuk diarungi
Bila kau mau, Tuhan tahu
Bila bertekad, Dia dekat
Percaya saja, tiada mustahil buat Dia
Dengan satu keyakinan, tiada gunung yang terlampau tinggi, saya terjun flying fox.
Di atas gedung STAN sementara menunggu kuliah akan dimulai, saya memandang perumahan Bintaro. Lama memandang, ada satu yang timbul dalam hati saya,”Suatu ketika nanti..., saya akan tinggal di perumahan ini....”
Baru sepuluh tahun kemudian apa yang diimpikan itu bisa menjadi kenyataan.
Amsal mendeskripsikan IMAN dengan perkataan ini, ”Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Raja Salomo menekankan untuk percaya kepada Tuhan, karena memang manusia tidak dapat memahami dimensi lebih tinggi di atas mereka. Ada sesuatu di atas sana, yaitu Tuhan, yang mengatur dan meluruskan jalan hidup mereka.
Penulis Philip Yanchei pernah berkata,”Iman artinya lebih dulu percaya, apa yang akan masuk akal setelah kita menengok ke belakang.” Iman menjangkau masa depan yang sepertinya tidak mungkin terjangkau secara akal. Memang ada hal-hal tertentu dalam kehidupan ini yang hanya akan bisa tercapai melalui iman.
Jadi bagaimana praktisnya? Iman menuntut kepercayaan mutlak tanpa syarat (dengan segenap hati dan pikiran). Kalau Tuhan sudah menaruh suatu keyakinan di dalam hati kita, itu pasti akan terjadi, tidak peduli situasi dan kondisi saat ini.
St. Augustine dari Hippo mengatakan, ”Iman artinya meyakini apa yang tidak kita lihat; dan upah iman ini adalah melihat apa yang kita yakini”. Sumber Hikmat pernah berkata,
”Apabila Aku kembali, berapa banyak orang yang akan Kudapati beriman?"
Saya harap Anda dan saya termasuk dalam kategori beriman ini.
Salam Hikmat, Bijaksana dalam Bertindak
Ong Budi Setiawan
Wednesday, April 29, 2009
Kapten Musa
“Kapten Musa”, demikian julukan untuk lokasi penempatan siswa Sekolah Alkitab Cianjur (SAC) setelah menyelesaikan pendidikannya. Hanya orang-orang pilihan yang ditempatkan untuk bekerja di rumah pemilik dari SAC ini.
Mengapa “Kapten Musa”, Musa adalah seorang raja yang dipersiapkan untuk memimpin bangsa Mesir. Dia memiliki segala kapasitas yang dibutuhkan untuk memimpin suatu bangsa. Kepemimpinan, tata negara, apa pun ketrampilan yang dibutuhkan dalam memimpin suatu negara telah diajarkan dalam 40 tahun kehidupannya di istana.
Sehingga suatu kali, terjadi kesalahan fatal, dan dia melarikan diri dan tinggal di padang rumput, menggembalakan domba. Bayangkan seorang yang penuh potensi, tetapi harus berdiam diri dan hanya diserahkan tanggung jawab menggembalakan domba yang cuma beberapa ekor. Berdiam diri dan belajar langsung dari Allah, selama 40 tahun lagi untuk siap memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir.
Ada satu lagu yang dinyanyikan oleh Bang Welyar Kauntu yang diinspirasikan oleh pengalaman Musa. Begini liriknya.
Bila Engkau tak besertaku, ku tak mau berjalan.
Kuperlu Tuhan pimpin langkahku dengan kasih karunia Mu.
Bimbing langkahku setiap hari, berjalan dalam Roh Mu.
Nyatakan Tuhan kemuliaan Mu dan berjalanlah denganku.”
Jadi apa yang sebenarnya dipelajari Musa:
1. Belajar Mengikuti “Agenda-nya Tuhan”
“Life begin at 40”, seperti kata dunia, tetapi Musa pada umur 40 malah menghilang dari keramaian dan belajar untuk menunggu waktunya Tuhan. “Ini bukan agenda-mu Musa, ini agenda-KU”, kata Tuhan. Bukan seperti yang kita mau, tapi seperti yang Tuhan mau.
2.Ketergantungan 100% pada Tuhan
Musa yang berumur 80 tahun setelah menjalani “sekolah padang gurun”, memiliki ketergantungan 100% kepada Tuhan. Dia tidak lagi menggunakan hikmat Mesir serta pelatihan yang didapatnya dari Mesir untuk memimpin bangsa yang besar. Hatinya penuh keinginan untuk melakukan kehendak Tuhan bukan kehendaknya sendiri.
Kedua hal ini yang membuatnya mampu memimpin bangsa yang besar untuk masuk ke tanah perjanjian. (Yang sedang masuk sekolah Musa – OBS)
Mengapa “Kapten Musa”, Musa adalah seorang raja yang dipersiapkan untuk memimpin bangsa Mesir. Dia memiliki segala kapasitas yang dibutuhkan untuk memimpin suatu bangsa. Kepemimpinan, tata negara, apa pun ketrampilan yang dibutuhkan dalam memimpin suatu negara telah diajarkan dalam 40 tahun kehidupannya di istana.
Sehingga suatu kali, terjadi kesalahan fatal, dan dia melarikan diri dan tinggal di padang rumput, menggembalakan domba. Bayangkan seorang yang penuh potensi, tetapi harus berdiam diri dan hanya diserahkan tanggung jawab menggembalakan domba yang cuma beberapa ekor. Berdiam diri dan belajar langsung dari Allah, selama 40 tahun lagi untuk siap memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir.
Ada satu lagu yang dinyanyikan oleh Bang Welyar Kauntu yang diinspirasikan oleh pengalaman Musa. Begini liriknya.
Bila Engkau tak besertaku, ku tak mau berjalan.
Kuperlu Tuhan pimpin langkahku dengan kasih karunia Mu.
Bimbing langkahku setiap hari, berjalan dalam Roh Mu.
Nyatakan Tuhan kemuliaan Mu dan berjalanlah denganku.”
Jadi apa yang sebenarnya dipelajari Musa:
1. Belajar Mengikuti “Agenda-nya Tuhan”
“Life begin at 40”, seperti kata dunia, tetapi Musa pada umur 40 malah menghilang dari keramaian dan belajar untuk menunggu waktunya Tuhan. “Ini bukan agenda-mu Musa, ini agenda-KU”, kata Tuhan. Bukan seperti yang kita mau, tapi seperti yang Tuhan mau.
2.Ketergantungan 100% pada Tuhan
Musa yang berumur 80 tahun setelah menjalani “sekolah padang gurun”, memiliki ketergantungan 100% kepada Tuhan. Dia tidak lagi menggunakan hikmat Mesir serta pelatihan yang didapatnya dari Mesir untuk memimpin bangsa yang besar. Hatinya penuh keinginan untuk melakukan kehendak Tuhan bukan kehendaknya sendiri.
Kedua hal ini yang membuatnya mampu memimpin bangsa yang besar untuk masuk ke tanah perjanjian. (Yang sedang masuk sekolah Musa – OBS)
Wednesday, September 17, 2008
Bagaimana Mengurangi Laju Pertumbuhan Angka Kemiskinan?
Bapak Ir. Pungky Widiatmoko, M.Si dari Ditjen PPK Depnakertrans RI, dalam seminar Nasional Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), menyampaikan bahwa tiap terjadi satu kecelakaan kerja, menambah jumlah angka kemiskinan di Indonesia.
Dalam tahun 2007, terjadi 65.474 kasus kecelakaan kerja dengan jumlah meninggal 1.451 orang, cacat 5.326 dan STMB 58.697.
Contohnya dengan kematian satu orang kepala keluarga dalam suatu keluarga, maka keluarga ini kehilangan sumber penghasilan. Seperti kita ketahui, rata-rata pendidikan para buruh adalah tamatan SD, dan biasanya mereka memiliki pasangan hidup yang relatif sama atau lebih rendah pendidikannya. Si ibu yang ditinggalkan akan kemudian berusaha mencari penghasilan pengganti, dan karena ketrampilan yang terbatas, maka dia hanya akan bekerja di sektor informal yang tidak memerlukan keahlian khusus, seperti tukang cuci baju di perumahan.
Dengan penghasilan yang sedikit, jika dia memiliki anak yang masih sekolah, dengan terpaksa akan menghentikan sekolah anaknya. Dengan pendidikan anak yang rendah, si anak juga akan menjadi buruh kerja kasar. Demikian seterusnya seperti lingkaran setan, kemiskinan membelenggu kehidupan mereka.
Bagaimana untuk menghindari hal ini, jawabannya adalah Penerapan Standard K3 yang baik di setiap proyek yang dilaksanakan di Indonesia.
Coba kita akan trace balik, si Ayah yang bekerja siang malam, akhirnya mampu meluluskan anaknya masuk perguruan tinggi. Dan dengan keuletan si Anak, walaupun serba pas-pasan berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi ini. Kemudian dia bekerja dengan penghasilan yang baik, sehingga bisa membantu memperbaiki perekonomian keluarga besarnya. Sehingga terjadi pengurangan jumlah keluarga miskin di negeri ini.
Mari dimulai dari diri kita sendiri, agar memiliki sikap yang menjunjung K3 sehingga tercipta lingkungan kerja yang aman demi Indonesia yang Lebih Baik (Better Indonesia). (OBS)
Dalam tahun 2007, terjadi 65.474 kasus kecelakaan kerja dengan jumlah meninggal 1.451 orang, cacat 5.326 dan STMB 58.697.
Contohnya dengan kematian satu orang kepala keluarga dalam suatu keluarga, maka keluarga ini kehilangan sumber penghasilan. Seperti kita ketahui, rata-rata pendidikan para buruh adalah tamatan SD, dan biasanya mereka memiliki pasangan hidup yang relatif sama atau lebih rendah pendidikannya. Si ibu yang ditinggalkan akan kemudian berusaha mencari penghasilan pengganti, dan karena ketrampilan yang terbatas, maka dia hanya akan bekerja di sektor informal yang tidak memerlukan keahlian khusus, seperti tukang cuci baju di perumahan.
Dengan penghasilan yang sedikit, jika dia memiliki anak yang masih sekolah, dengan terpaksa akan menghentikan sekolah anaknya. Dengan pendidikan anak yang rendah, si anak juga akan menjadi buruh kerja kasar. Demikian seterusnya seperti lingkaran setan, kemiskinan membelenggu kehidupan mereka.
Bagaimana untuk menghindari hal ini, jawabannya adalah Penerapan Standard K3 yang baik di setiap proyek yang dilaksanakan di Indonesia.
Coba kita akan trace balik, si Ayah yang bekerja siang malam, akhirnya mampu meluluskan anaknya masuk perguruan tinggi. Dan dengan keuletan si Anak, walaupun serba pas-pasan berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi ini. Kemudian dia bekerja dengan penghasilan yang baik, sehingga bisa membantu memperbaiki perekonomian keluarga besarnya. Sehingga terjadi pengurangan jumlah keluarga miskin di negeri ini.
Mari dimulai dari diri kita sendiri, agar memiliki sikap yang menjunjung K3 sehingga tercipta lingkungan kerja yang aman demi Indonesia yang Lebih Baik (Better Indonesia). (OBS)
Wednesday, August 20, 2008
Worshipping with Open Eyes
Sewaktu menghadiri ibadah di gereja, saya teringat sewaktu saya masih menjadi imam musik dan melayani di mimbar, tetapi sekarang sudah dimulai era baru dalam hidup saya yaitu "Worshipping with Open Eyes". Era pelayanan di mimbar atau gedung gereja saya anggap sebagai memory saja. Kini saat-nya pelayanan dengan mata yang terbuka.
Pelayanan yang dimaksud adalah pelayanan di bidang-bidang yang di sebut 7 Pilar. Kami mulai bergerak dalam mendaki puncak gunung ke tujuh pilar tersebut. Bidang yang saya ambil adalah dalam bidang pendidikan. Kami memulai dengan membuka KB & TK Happy Holy Kids (hhkgrahaya.blogspot.com). Dalam hal ini istri saya yang terjun langsung untuk menangani operasional hariannya.
Bagi saya yaitu pelayanan untuk memberikan pemikiran baru dalam pembentukan karakter bangsa. Untuk itu saya buat Yayasan Pembangun Karakter Bangsa Indonesia. Seperti kita tahu ada pepatah ini:
watch your thought
it may becomes your words
watch your words
it may becomes your action
watch your action
it may becomes your habits
watch your habits
it may becomes your character
watch your character
it may becomes your destiny
Pembangunan karakter dimulai dari perubahan cara pikir. Bagaimana mengubah cara pikir? Dengan mengisi pikiran-pikiran kita dengan hal-hal yang positif. Untuk itu saya buat Mailing List: KlubAmsal@yahoogroups.com untuk menuangkan pemikiran-pemikiran saya. Dan juga saya posting di KlubAmsal.blogspot.com (untuk yang dewasa dan sudah menikah) dan untuk anak-anak muda, saya posting di KlubAmsal.blogdetik.com.
Sampai di sini dulu. (OBS)
Pelayanan yang dimaksud adalah pelayanan di bidang-bidang yang di sebut 7 Pilar. Kami mulai bergerak dalam mendaki puncak gunung ke tujuh pilar tersebut. Bidang yang saya ambil adalah dalam bidang pendidikan. Kami memulai dengan membuka KB & TK Happy Holy Kids (hhkgrahaya.blogspot.com). Dalam hal ini istri saya yang terjun langsung untuk menangani operasional hariannya.
Bagi saya yaitu pelayanan untuk memberikan pemikiran baru dalam pembentukan karakter bangsa. Untuk itu saya buat Yayasan Pembangun Karakter Bangsa Indonesia. Seperti kita tahu ada pepatah ini:
watch your thought
it may becomes your words
watch your words
it may becomes your action
watch your action
it may becomes your habits
watch your habits
it may becomes your character
watch your character
it may becomes your destiny
Pembangunan karakter dimulai dari perubahan cara pikir. Bagaimana mengubah cara pikir? Dengan mengisi pikiran-pikiran kita dengan hal-hal yang positif. Untuk itu saya buat Mailing List: KlubAmsal@yahoogroups.com untuk menuangkan pemikiran-pemikiran saya. Dan juga saya posting di KlubAmsal.blogspot.com (untuk yang dewasa dan sudah menikah) dan untuk anak-anak muda, saya posting di KlubAmsal.blogdetik.com.
Sampai di sini dulu. (OBS)
Thursday, August 14, 2008
Rajawali Tua
Seekor rajawali adalah jenis unggas yang bisa mencapai usia tujuh puluh tahun. Tetapi untuk mencapai umur tersebut, harus melewati proses yang tidak mudah, malah bisa dibilang menyakitkan. Tetapi itulah yang harus dilakukan jika ingin bertahan hidup lebih lama.
Memasuki usia yang keempat puluh, tubuh seekor rajawali akan menunjukkan tanda-tanda penuaan. Ini ditandai dengan paruh yang semakin panjang dan juga bengkok ke arah tubuhnya, sehingga lama kelamaan paruh tersebut akan menyentuh dadanya. Begitu pula dengan cakar-cakarnya, tidak sekuat dulu lagi karena termakan usia. Bulu-bulu sayapnya yang menebal tak beraturan dan menjadi berat, sehingga sulit baginya untuk terbang dengan lincah. Jika hal ini dibiarkan begitu saja, maka yang akan terjadi pada rajawali tersebut adalah kematian. Mau tidak mau ia harus menentukan pilihan. Mati atau melalui sebuah proses panjang yang menyakitkan selama seratus lima puluh hari.
Umumnya rajawali memilih untuk melalui proses menyakitkan tersebut dengan berusaha sekuat tenaga terbang ke puncak gunung. Di sana ia memulai proses panjang yang akan mendatangkan pembaruan baginya.
Proses pembaruan dimulai dari paruhnya yang sudah terlalu panjang dan bengkok. Paruh tersebut akan dipatuk-patukkan pada batu karang sampai akhirnya paruh tersebut lepas. Setelah paruh lepas, ia akan berdiam diri lagi selama beberapa waktu hingga tumbuh paruh baru. Dengan paruh yang yang baru itu ia akan mencabut cakar-cakarnya. Setelah mencabut cakar-cakarnya, ia akan menunggu lagi sampai tumbuh cakar baru. Setelah cakar baru tumbuh, maka ia akan mencabut bulu-bulunya dengan cakar baru itu. Setelah seratus lima puluh hari atau sekitar lima bulan, bulu-bulu yang baru akan tumbuh. Rajawali kini bisa terbang kembali dengan kekuatan dan penampilan yang sudah dibarui. (Disadur dari Manna Sorgawi, 9 Agustus 2008).
Setiap tujuh tahun dalam kehidupan kerohanian saya, selalu ada saat saya merasa seperti seekor rajawali tua. Perlu ada perubahan yang mendasar yang memberi saya gairah untuk terus hidup dan melayani. Empat belas tahun lalu,saya masih ingat saya melepaskan pelayanan sekolah minggu, pelayanan remaja dan pelayanan musik dan pindah ke gereja yang baru, tanpa pelayanan sama sekali. Setelah masuk ke gereja yang baru, saya mulai lagi dari bawah sebagai jemaat, sampai kemudian menjadi wakil ketua Dewasa Muda (DM) dan Ketua Pendoa Syafaat, dan sepertinya siklus tujuh tahunan kembali harus saya lakukan lagi. Saya lepaskan semua pelayanan dan pindah ke cabang lain, dan terjun sebagai Imam Musik (pemain drum). Siklus berlanjut lagi, saya merasa saatnya untuk melepaskan Imam Musik dan masuk ke dunia pelayanan yang benar-benar baru. Mulai awal Juni 2008, saya lepaskan semua pelayanan di gereja dan pindah ke gereja yang baru.
Pelayanan yang baru ini adalah pelayanan dalam rangka membangun Tujuh Pilar Kerajaan Allah. Saya masih belum tahu bentuknya seperti apa, tetapi seperti rajawali yang sudah melepaskan paruh, cakar dan bulu-bulu -- saya masih menunggu ketiga-nya tumbuh kembali dan baru akan mulai terjun ke dalamnya. (OBS)
Memasuki usia yang keempat puluh, tubuh seekor rajawali akan menunjukkan tanda-tanda penuaan. Ini ditandai dengan paruh yang semakin panjang dan juga bengkok ke arah tubuhnya, sehingga lama kelamaan paruh tersebut akan menyentuh dadanya. Begitu pula dengan cakar-cakarnya, tidak sekuat dulu lagi karena termakan usia. Bulu-bulu sayapnya yang menebal tak beraturan dan menjadi berat, sehingga sulit baginya untuk terbang dengan lincah. Jika hal ini dibiarkan begitu saja, maka yang akan terjadi pada rajawali tersebut adalah kematian. Mau tidak mau ia harus menentukan pilihan. Mati atau melalui sebuah proses panjang yang menyakitkan selama seratus lima puluh hari.
Umumnya rajawali memilih untuk melalui proses menyakitkan tersebut dengan berusaha sekuat tenaga terbang ke puncak gunung. Di sana ia memulai proses panjang yang akan mendatangkan pembaruan baginya.
Proses pembaruan dimulai dari paruhnya yang sudah terlalu panjang dan bengkok. Paruh tersebut akan dipatuk-patukkan pada batu karang sampai akhirnya paruh tersebut lepas. Setelah paruh lepas, ia akan berdiam diri lagi selama beberapa waktu hingga tumbuh paruh baru. Dengan paruh yang yang baru itu ia akan mencabut cakar-cakarnya. Setelah mencabut cakar-cakarnya, ia akan menunggu lagi sampai tumbuh cakar baru. Setelah cakar baru tumbuh, maka ia akan mencabut bulu-bulunya dengan cakar baru itu. Setelah seratus lima puluh hari atau sekitar lima bulan, bulu-bulu yang baru akan tumbuh. Rajawali kini bisa terbang kembali dengan kekuatan dan penampilan yang sudah dibarui. (Disadur dari Manna Sorgawi, 9 Agustus 2008).
Setiap tujuh tahun dalam kehidupan kerohanian saya, selalu ada saat saya merasa seperti seekor rajawali tua. Perlu ada perubahan yang mendasar yang memberi saya gairah untuk terus hidup dan melayani. Empat belas tahun lalu,saya masih ingat saya melepaskan pelayanan sekolah minggu, pelayanan remaja dan pelayanan musik dan pindah ke gereja yang baru, tanpa pelayanan sama sekali. Setelah masuk ke gereja yang baru, saya mulai lagi dari bawah sebagai jemaat, sampai kemudian menjadi wakil ketua Dewasa Muda (DM) dan Ketua Pendoa Syafaat, dan sepertinya siklus tujuh tahunan kembali harus saya lakukan lagi. Saya lepaskan semua pelayanan dan pindah ke cabang lain, dan terjun sebagai Imam Musik (pemain drum). Siklus berlanjut lagi, saya merasa saatnya untuk melepaskan Imam Musik dan masuk ke dunia pelayanan yang benar-benar baru. Mulai awal Juni 2008, saya lepaskan semua pelayanan di gereja dan pindah ke gereja yang baru.
Pelayanan yang baru ini adalah pelayanan dalam rangka membangun Tujuh Pilar Kerajaan Allah. Saya masih belum tahu bentuknya seperti apa, tetapi seperti rajawali yang sudah melepaskan paruh, cakar dan bulu-bulu -- saya masih menunggu ketiga-nya tumbuh kembali dan baru akan mulai terjun ke dalamnya. (OBS)
40 km/jam Aja... 1 lt = 75 km


Setelah mencoba jalan dengan kecepatan tetap 40 km perjam, saya dapat 1 lt bensin untuk 75 km. Rute yang saya tempuh tiap hari adalah Ciledug sampai Sudirman lebih kurang 25 km. Rutenya agak macet, tapi ada lokasi di mana bisa lebih cepat. Tapi saya pertahankan tetap dalam kecepatan 40 kpj, dan hasilnya benar-benar amazing. Sekarang isi bensin cukup 1 minggu sekali full tank, kurang lebih 3 liter.
Sepeda motor saya, Honda Grand tahun 1994.
Oke Silahkan mencoba....(OBS)
Oya, saya temukan gambar di http://commons.wikimedia.org/wiki/Image:Japanese_Road_sign_(Maximum_Speed_Limit_40kph).svg -- cocok untuk label gerakan 40 kpj ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)