Ada suatu kejanggalan yang aneh dalam Alkitab (kitab orang Kristen), Yesus Kristus seorang yang penuh belas kasihan, tidak pernah memberi sepeser pun ke seorang pengemis.
Walaupun Dia cukup kaya, ingat persembahan Mas, Mur dan Kemenyan oleh orang-orang majus. Ingat juga bahwa Dia punya seorang bendahara yang mengurusi bidang keuangan.
Ternyata, Yesus ingin manusia berkembang menjadi orang sebagaimana mereka diciptakan oleh Tuhan. Tuhan tidak pernah menciptakan pengemis.....!!
Gaya hidup dan pilihan hidup yang membentuk orang menjadi pengemis.
Potensi yang sebenarnya tidak digunakan untuk mendapatkan bagiannya dalam kehidupan ini.
Tidak semua orang harus menjadi dokter, dan tidak semua orang memang dirancang untuk melayani orang sakit. Tidak semua orang harus menjadi pedagang, walaupun kemampuan ini sangat berguna sewaktu orang sedang tidak bekerja.
Beberapa tahun ini saya perhatikan di jalan Raya Bintaro, setiap bulan puasa ada banyak gerobak dengan keluarga mereka mengharapkan belas kasihan. Dan salah satu gerobak saya lihat ada setiap tahun dengan tulisan Rina & Rini. Dua anak yang digunakan orang tuanya untuk menjalankan profesi-nya. Saya katakan Profesi, karena ini sudah dilakukan tiap tahun dan sudah menjadi profesi.
Yang paling penting dalam kehidupan adalah menemukan.... , benar menemukan potensi apa yang Tuhan sudah berikan dalam hidup Saudara. Bukan potensi orang lain, jangan pernah iri, karena Dia menciptakan kita secara unik.
Setelah ditemukan, kembangkan dan gunakan untuk melayani orang. Dan Anda akan mendapatkan imbalan dari kehidupan.
Orang membayar mahal untuk mendengarkan konser musik, tetapi membayar seribu perak untuk seorang pengamen. Jadi kita tahu bahwa kualitas yang menentukan besarnya bayaran yang didapat.
Jangan cepat menyerah, mungkin mutiara itu terpendam sangat dalam, dan perlu usaha yang keras untuk menampilkannya keluar. Jangan pernah menyerah karena imbalan-nya menunggu Anda di depan.
- Ong Budi
Thursday, October 04, 2007
Thursday, July 19, 2007
Pelajaran dari Brasil dan Piala Asia di Jakarta
Kekalahan yang menyakitkan dialami oleh kesebelasan Indonesia melawan Arab, hanya tersisa satu menit, malah gawang Indonesia kebobolan sehingga harus kalah. Dan partai lanjutan melawan Korea, berakhir dengan kandasnya tuan rumah Indonesia.
Beralih ke Brasil di Copa Amerika, berawal dengan tertatih-tatih menuju final, tetapi kemudian mengalami klimaks-nya dengan mengalahkan Argentina yang sangat kokoh melangkah menuju final.
Tragis.
Saya kagum dengan kemampuan Tim Brasil, pemain mereka tidak bertaburan bintang, tetapi mereka ditempatkan sesuai dengan Tuhan menciptakan mereka. Di bagian bek ditempatkan orang-orang yang benar-benar kekar dan berbadan kuat. Di bagian penyerang ditaruh orang yang gesit larinya dan cerdik.
Saya berpikir, mengapa Indonesia tidak meniru Brasil dalam memilih pemain bola. Di negara ini terdiri dari beragam suku, yang masing-masing memiliki kelebihannya. Saya membayangkan tim Indonesia, seperti ini: orang Ambon dan Papua dipilih sebagai bek. Pilih yang kuat sehingga kalau body contact tidak ada yang menang melawan mereka. Waktu Brasil mengalahkan Argentina, tidak ada penyerang Argentina yang berani melewati bek-bek yang kekar tsb. Untuk penyerang ambil orang Jawa dan Sunda yang terkenal dengan kegesitan dan kecerdikannya. Pengatur serangan gunakan orang Manado dan orang Batak, kemampuan mereka dalam bidang hukum dan politik menjadi contoh bahwa mereka bertalenta dalam hal ini.
Saya rasa contohnya cukup, tetapi yang mau saya sampaikan adalah setiap suku, Tuhan ciptakan dengan kelebihannya masing-masing. Tuhan bentuk mereka berbeda, untuk mengisi masing-masing posisi dalam kehidupan ini. Jangan pernah iri dengan kemampuan orang lain, tapi gali kemampuan diri sendiri (potensi yang Tuhan taruh di dalam masing-masing orang).
Cheers,
Ong Budi
Beralih ke Brasil di Copa Amerika, berawal dengan tertatih-tatih menuju final, tetapi kemudian mengalami klimaks-nya dengan mengalahkan Argentina yang sangat kokoh melangkah menuju final.
Tragis.
Saya kagum dengan kemampuan Tim Brasil, pemain mereka tidak bertaburan bintang, tetapi mereka ditempatkan sesuai dengan Tuhan menciptakan mereka. Di bagian bek ditempatkan orang-orang yang benar-benar kekar dan berbadan kuat. Di bagian penyerang ditaruh orang yang gesit larinya dan cerdik.
Saya berpikir, mengapa Indonesia tidak meniru Brasil dalam memilih pemain bola. Di negara ini terdiri dari beragam suku, yang masing-masing memiliki kelebihannya. Saya membayangkan tim Indonesia, seperti ini: orang Ambon dan Papua dipilih sebagai bek. Pilih yang kuat sehingga kalau body contact tidak ada yang menang melawan mereka. Waktu Brasil mengalahkan Argentina, tidak ada penyerang Argentina yang berani melewati bek-bek yang kekar tsb. Untuk penyerang ambil orang Jawa dan Sunda yang terkenal dengan kegesitan dan kecerdikannya. Pengatur serangan gunakan orang Manado dan orang Batak, kemampuan mereka dalam bidang hukum dan politik menjadi contoh bahwa mereka bertalenta dalam hal ini.
Saya rasa contohnya cukup, tetapi yang mau saya sampaikan adalah setiap suku, Tuhan ciptakan dengan kelebihannya masing-masing. Tuhan bentuk mereka berbeda, untuk mengisi masing-masing posisi dalam kehidupan ini. Jangan pernah iri dengan kemampuan orang lain, tapi gali kemampuan diri sendiri (potensi yang Tuhan taruh di dalam masing-masing orang).
Cheers,
Ong Budi
Subscribe to:
Posts (Atom)