Wednesday, August 20, 2008

Worshipping with Open Eyes

Sewaktu menghadiri ibadah di gereja, saya teringat sewaktu saya masih menjadi imam musik dan melayani di mimbar, tetapi sekarang sudah dimulai era baru dalam hidup saya yaitu "Worshipping with Open Eyes". Era pelayanan di mimbar atau gedung gereja saya anggap sebagai memory saja. Kini saat-nya pelayanan dengan mata yang terbuka.

Pelayanan yang dimaksud adalah pelayanan di bidang-bidang yang di sebut 7 Pilar. Kami mulai bergerak dalam mendaki puncak gunung ke tujuh pilar tersebut. Bidang yang saya ambil adalah dalam bidang pendidikan. Kami memulai dengan membuka KB & TK Happy Holy Kids (hhkgrahaya.blogspot.com). Dalam hal ini istri saya yang terjun langsung untuk menangani operasional hariannya.

Bagi saya yaitu pelayanan untuk memberikan pemikiran baru dalam pembentukan karakter bangsa. Untuk itu saya buat Yayasan Pembangun Karakter Bangsa Indonesia. Seperti kita tahu ada pepatah ini:

watch your thought
it may becomes your words
watch your words
it may becomes your action
watch your action
it may becomes your habits
watch your habits
it may becomes your character
watch your character
it may becomes your destiny

Pembangunan karakter dimulai dari perubahan cara pikir. Bagaimana mengubah cara pikir? Dengan mengisi pikiran-pikiran kita dengan hal-hal yang positif. Untuk itu saya buat Mailing List: KlubAmsal@yahoogroups.com untuk menuangkan pemikiran-pemikiran saya. Dan juga saya posting di KlubAmsal.blogspot.com (untuk yang dewasa dan sudah menikah) dan untuk anak-anak muda, saya posting di KlubAmsal.blogdetik.com.

Sampai di sini dulu. (OBS)

Thursday, August 14, 2008

Rajawali Tua

Seekor rajawali adalah jenis unggas yang bisa mencapai usia tujuh puluh tahun. Tetapi untuk mencapai umur tersebut, harus melewati proses yang tidak mudah, malah bisa dibilang menyakitkan. Tetapi itulah yang harus dilakukan jika ingin bertahan hidup lebih lama.

Memasuki usia yang keempat puluh, tubuh seekor rajawali akan menunjukkan tanda-tanda penuaan. Ini ditandai dengan paruh yang semakin panjang dan juga bengkok ke arah tubuhnya, sehingga lama kelamaan paruh tersebut akan menyentuh dadanya. Begitu pula dengan cakar-cakarnya, tidak sekuat dulu lagi karena termakan usia. Bulu-bulu sayapnya yang menebal tak beraturan dan menjadi berat, sehingga sulit baginya untuk terbang dengan lincah. Jika hal ini dibiarkan begitu saja, maka yang akan terjadi pada rajawali tersebut adalah kematian. Mau tidak mau ia harus menentukan pilihan. Mati atau melalui sebuah proses panjang yang menyakitkan selama seratus lima puluh hari.

Umumnya rajawali memilih untuk melalui proses menyakitkan tersebut dengan berusaha sekuat tenaga terbang ke puncak gunung. Di sana ia memulai proses panjang yang akan mendatangkan pembaruan baginya.

Proses pembaruan dimulai dari paruhnya yang sudah terlalu panjang dan bengkok. Paruh tersebut akan dipatuk-patukkan pada batu karang sampai akhirnya paruh tersebut lepas. Setelah paruh lepas, ia akan berdiam diri lagi selama beberapa waktu hingga tumbuh paruh baru. Dengan paruh yang yang baru itu ia akan mencabut cakar-cakarnya. Setelah mencabut cakar-cakarnya, ia akan menunggu lagi sampai tumbuh cakar baru. Setelah cakar baru tumbuh, maka ia akan mencabut bulu-bulunya dengan cakar baru itu. Setelah seratus lima puluh hari atau sekitar lima bulan, bulu-bulu yang baru akan tumbuh. Rajawali kini bisa terbang kembali dengan kekuatan dan penampilan yang sudah dibarui. (Disadur dari Manna Sorgawi, 9 Agustus 2008).

Setiap tujuh tahun dalam kehidupan kerohanian saya, selalu ada saat saya merasa seperti seekor rajawali tua. Perlu ada perubahan yang mendasar yang memberi saya gairah untuk terus hidup dan melayani. Empat belas tahun lalu,saya masih ingat saya melepaskan pelayanan sekolah minggu, pelayanan remaja dan pelayanan musik dan pindah ke gereja yang baru, tanpa pelayanan sama sekali. Setelah masuk ke gereja yang baru, saya mulai lagi dari bawah sebagai jemaat, sampai kemudian menjadi wakil ketua Dewasa Muda (DM) dan Ketua Pendoa Syafaat, dan sepertinya siklus tujuh tahunan kembali harus saya lakukan lagi. Saya lepaskan semua pelayanan dan pindah ke cabang lain, dan terjun sebagai Imam Musik (pemain drum). Siklus berlanjut lagi, saya merasa saatnya untuk melepaskan Imam Musik dan masuk ke dunia pelayanan yang benar-benar baru. Mulai awal Juni 2008, saya lepaskan semua pelayanan di gereja dan pindah ke gereja yang baru.

Pelayanan yang baru ini adalah pelayanan dalam rangka membangun Tujuh Pilar Kerajaan Allah. Saya masih belum tahu bentuknya seperti apa, tetapi seperti rajawali yang sudah melepaskan paruh, cakar dan bulu-bulu -- saya masih menunggu ketiga-nya tumbuh kembali dan baru akan mulai terjun ke dalamnya. (OBS)

40 km/jam Aja... 1 lt = 75 km



Setelah mencoba jalan dengan kecepatan tetap 40 km perjam, saya dapat 1 lt bensin untuk 75 km. Rute yang saya tempuh tiap hari adalah Ciledug sampai Sudirman lebih kurang 25 km. Rutenya agak macet, tapi ada lokasi di mana bisa lebih cepat. Tapi saya pertahankan tetap dalam kecepatan 40 kpj, dan hasilnya benar-benar amazing. Sekarang isi bensin cukup 1 minggu sekali full tank, kurang lebih 3 liter.
Sepeda motor saya, Honda Grand tahun 1994.
Oke Silahkan mencoba....(OBS)


Oya, saya temukan gambar di http://commons.wikimedia.org/wiki/Image:Japanese_Road_sign_(Maximum_Speed_Limit_40kph).svg -- cocok untuk label gerakan 40 kpj ini.