Thursday, August 14, 2008

Rajawali Tua

Seekor rajawali adalah jenis unggas yang bisa mencapai usia tujuh puluh tahun. Tetapi untuk mencapai umur tersebut, harus melewati proses yang tidak mudah, malah bisa dibilang menyakitkan. Tetapi itulah yang harus dilakukan jika ingin bertahan hidup lebih lama.

Memasuki usia yang keempat puluh, tubuh seekor rajawali akan menunjukkan tanda-tanda penuaan. Ini ditandai dengan paruh yang semakin panjang dan juga bengkok ke arah tubuhnya, sehingga lama kelamaan paruh tersebut akan menyentuh dadanya. Begitu pula dengan cakar-cakarnya, tidak sekuat dulu lagi karena termakan usia. Bulu-bulu sayapnya yang menebal tak beraturan dan menjadi berat, sehingga sulit baginya untuk terbang dengan lincah. Jika hal ini dibiarkan begitu saja, maka yang akan terjadi pada rajawali tersebut adalah kematian. Mau tidak mau ia harus menentukan pilihan. Mati atau melalui sebuah proses panjang yang menyakitkan selama seratus lima puluh hari.

Umumnya rajawali memilih untuk melalui proses menyakitkan tersebut dengan berusaha sekuat tenaga terbang ke puncak gunung. Di sana ia memulai proses panjang yang akan mendatangkan pembaruan baginya.

Proses pembaruan dimulai dari paruhnya yang sudah terlalu panjang dan bengkok. Paruh tersebut akan dipatuk-patukkan pada batu karang sampai akhirnya paruh tersebut lepas. Setelah paruh lepas, ia akan berdiam diri lagi selama beberapa waktu hingga tumbuh paruh baru. Dengan paruh yang yang baru itu ia akan mencabut cakar-cakarnya. Setelah mencabut cakar-cakarnya, ia akan menunggu lagi sampai tumbuh cakar baru. Setelah cakar baru tumbuh, maka ia akan mencabut bulu-bulunya dengan cakar baru itu. Setelah seratus lima puluh hari atau sekitar lima bulan, bulu-bulu yang baru akan tumbuh. Rajawali kini bisa terbang kembali dengan kekuatan dan penampilan yang sudah dibarui. (Disadur dari Manna Sorgawi, 9 Agustus 2008).

Setiap tujuh tahun dalam kehidupan kerohanian saya, selalu ada saat saya merasa seperti seekor rajawali tua. Perlu ada perubahan yang mendasar yang memberi saya gairah untuk terus hidup dan melayani. Empat belas tahun lalu,saya masih ingat saya melepaskan pelayanan sekolah minggu, pelayanan remaja dan pelayanan musik dan pindah ke gereja yang baru, tanpa pelayanan sama sekali. Setelah masuk ke gereja yang baru, saya mulai lagi dari bawah sebagai jemaat, sampai kemudian menjadi wakil ketua Dewasa Muda (DM) dan Ketua Pendoa Syafaat, dan sepertinya siklus tujuh tahunan kembali harus saya lakukan lagi. Saya lepaskan semua pelayanan dan pindah ke cabang lain, dan terjun sebagai Imam Musik (pemain drum). Siklus berlanjut lagi, saya merasa saatnya untuk melepaskan Imam Musik dan masuk ke dunia pelayanan yang benar-benar baru. Mulai awal Juni 2008, saya lepaskan semua pelayanan di gereja dan pindah ke gereja yang baru.

Pelayanan yang baru ini adalah pelayanan dalam rangka membangun Tujuh Pilar Kerajaan Allah. Saya masih belum tahu bentuknya seperti apa, tetapi seperti rajawali yang sudah melepaskan paruh, cakar dan bulu-bulu -- saya masih menunggu ketiga-nya tumbuh kembali dan baru akan mulai terjun ke dalamnya. (OBS)

No comments: